Manajemen Kelas
Nama : Andri
NIM : 11901292
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliah : Magang 1
Dosen : Farninda Aditya, M. Pd.
LAPORAN BACAAN 5
MANAJEMEN KELAS
Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris management dengan kata kerja tomanage yang berarti mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina atau memimpin. Kata bendamanagement dan manage berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Manajemen memiliki arti pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).
Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan kelas merupakan suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, di dalam kelas tersebut guru berperan sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas. Kelas dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama.
Manajemen kelas bertujuan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan kondusif, agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan kondusif. Dengan begitu, jika peserta didik sudah merasakan kenyamanan dalam belajar, maka tujuan pembelajaran yang ingin disampaikan guru akan mudah untuk tercapai, dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebagai pelaksana pembelajaran memiliki peran untuk mampu mewujudkan kelas yang kondusif untuk proses pembelajaran. Kelas merupakan lingkungan belajar atau kelompok belajar, dimana peserta didik dapat berinteraksi dengan sesama teman, guru dan lingkungan belajar, dimana orang-orang di dalamnya dapat mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Peserta didik akan mengalami kesulitan apabila lingkungan tempat pembelajaran tidak mendukung (Rinja Efendi dan Delita Gustriani: 2020).
Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja Efendi dan Delita Gustrianai, tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut:
1) Mewujudkan situasi dan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.
2) Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3) Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek siswa dalam belajar.
4) Membina dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individunya.
Manajemen kelas bertujuan untuk meningkatkan efektifitas serta memaksimalkan waktu belajar demi pencapaian tujuan pembelajaran yang kondusif. Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Dalam proses pengelolaan kelas, keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh sebab itu guru harus menetapkan tujuan apa yang hendak dicapainya dengan kegiatan pengelolaan atau manajemen kelas yang dilakukan.
Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja Efendi dan Delita Gustrianai, terdapat sifat-sifat dari manajemen kelas yaitu otoritatif, permisif, behavior modification, sosio-emosional, sosial.
1) Otoritatif, merupakan penerapan manajemen kelas yang berorientasi pada kedisiplinan peserta didik dan bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana belajar yang kondusif.
2) Permisif, yaitu penerapan manajemen kelas yang bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan kebebasan peserta didik.
3) Behavior modification, dimana penerapan manajemen kelas berfokus pada penanaman akhlak terpuji dan budi pekerti luhur peserta didik.
4) Sosio-emosional, merupakan penerapan manajemen kelas yang berprinsip dasar pada kegiatan belajar yang akan berkembang secara maksimal dengan hubungan antara guru dan peserta didik terjalin dengan baik.
5) Sosial, yakni penerapan manajemen kelas yang berdasarkan anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok sebagai gantinya.
Terdapat pula fungsi dari manajemen kelas, yaitu:
1) Memberi dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, dan merubah kondisi kelas.
2) Memelihara agar tugas-tugas dapat berjalan lancar. Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan-penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapainya. Menurut Suhardan dkk (2009) dalam Rinja Efendi dan Delita Gustrianai, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen harus disesuaikan dengan dasar filosofis dan pendidikan (belajar mengajar) di dalam kelas, yang meliputi:
a) Merencanakan, yaitu membuat suatu target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Pada organisasi, merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode atau teknik yang tepat. Perencanaan berarti pekerjaan guru untuk menyusun tujuan belajar yang meliputi 1) memperkirakan tuntutan, 2) merumuskan tujuan dalam silabus kegiatan instruksional, 3) menentukan urutan topik, 4) topik yang harus dipelajari, 5) mengalokasikan waktu yang telah tersedia, dan menganggarkan sumber-sumber yang diperlukan oleh guru.
b) Mengorganisasikan berarti: 1) menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi, 2) merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan, 3) menugaskan seseorang atau kelompok orang dalam suatu tanggungjawab tugas dan fungsi tertentu, 4) mendelegasikan wewenang kepada individu yang berhubungan dengan keleluasaan melaksanakan tugas.
c) Di dalam kelas memimpin merupakan pekerjaan seorang guru untuk memberikan motivasi, dorongan dan menstimulasikan peserta didik untuk tetap terus belajar, sehingga mereka siap untuk mewujudkan tujuan belajar.
d) Mengawasi (controlling), merupakan pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah fungsinya dalam mengorganisasikan telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat diwujudkan, maka guru harus menilai dan mengatur kembali situasi pembelajaran nya dan bukan mengubah tujuannya.
Terdapat beberapa pendekatan dalam manajemen kelas, yaitu (Moh. Toharudin):
1) Pendekatan Kekuasaan. Pendekatan ini merupakan suatu proses untuk mengontrol perilaku peserta didik di dalam kelas. Peran seorang guru dalam pendekatan ini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan akan menciptakan ketaatan peseta didik di kelas. Kedisiplinan yang di terapkan guru dilandasi oleh kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati oleh seluruh individu di dalam kelas.
2) Pendekatan Ancaman. Pendekatan ancaman adalah pendekatan untuk mengontrol perilaku peserta didik di dalam kelas. Pendekatan ini dapat diimplementasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang membantah, yang semua ditujukan agar peserta didik mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru. Peran guru dalam pendekatan ini adalah memberikan kesadaran dan efek jera kepada peserta didik agar mampu untuk belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
3) Pendekatan Kebebasan. Pendekatan ini membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu atau tempat. Peran guru di pendekatan ini ialah mengusahakan dengan semaksimal mungkin bahwa kebebasan peserta didik merupakan prioritas dalam proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pendekatan kebebasan ini harus dalam arahan yang ketat dari guru agar proses belajar yang dilakukan sesuai dengan apa yang diharapkan dan ditetapkan dalam tujuan pembelajaran.
4) Pendekatan Resep. Pendekatan resep ataucook book dilaksanakan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Pada daftar tersebut dicantumkan tahap demi tahap apa yang harus dilakukan oleh guru. Peran guru di pendekatan ini hanya mengikuti petunjuk demi petunjuk yang ada di dalam resep.
5) Pendekatan Pengajaran. Pendekatan ini didasarkan atas satu anggapan bahwa pengajaran yang baik akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebabkan oleh peserta didik di dalam kelas. Pendekatan pengajaran ini mampu mendeteksi masalah yang mungkin timbul dari perilaku peserta didik di dalam kelas. Peran guru di sini ialah sebagai pengajar pembelajaran untuk mencegah dan menghentikan perilaku peserta didik yang kurang baik di kelas. Guru berperan merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik sehingga peserta didik mampu untuk belajar dengan baik di kelas.
6) Pendekatan Perubahan Perilaku. Pendekatan ini merupakan sebuah proses untuk mengubah perilaku peserta didik di dalam kelas. Guru berperan untuk mengembangkan perilaku peserta didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan perilaku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan puas atau senang. Sedangkan perilaku yang kurang baik akan diberi sanksi atau hukuman yang menimbulkan perasaan tidak puas dan pada akhirnya perilaku tersebut akan dihindari oleh peserta didik.
7) Pendekatan Sosio Emosional. Pendekatan sosio emosional akan tercapai bila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut seperti hubungan antar guru dengan peserta didik, serta hubungan antara sesama peserta didik. Peran guru di sini ialah mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi kelas, baik antara guru dengan peserta didik maupun hubungan antar peserta didik. Untuk menciptakan hubungan yang positif antara guru dengan peserta didik, maka guru harus bersikap mengerti dan mengayomi kepada peserta didik, peserta didik juga perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya untuk saling memahami, menghargai, dan saling bekerja sama antar peserta didik.
Pendekatan Kerja Kelompok. Pada pendekatan ini guru berperan menciptakan kelompok belajar di kelas. Kelompok belajar tersebut membutuhkan keterampilan guru dalam menerapkan strategi dalam penciptaan kelompok belajar yang produktif dan efektif. Guru juga perlu untuk mengembangkan kondisi kelompok belajar tetap kondusif dalam mengikuti setiap proses belajar dang pembelajaran yang dilaksanakan di kelas, untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru perlu mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
9) Pendekatan Elektis dan Prularistik. Pendekatan elektis atau electic approachini menekankan pada potensi, kreativitas, dan inisiatif dari guru dalam memilih berbagai pendekatan yang tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi kelas. Pendekatan ini juga disebut dengan pendekatan pluralistic, dimana pengelolaan kelas dengan memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien. Di sini guru berperan untuk memilih dan menggabungkan secara bebas berbagai pendekatan dalam manajemen kelas, yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki dalam manajemen kelas.
10) Pendekatan Teknologi dan Informasi. Pendekatan ini berasumsi bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan saja, pembelajaran modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas. Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik sesuai dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan teknologi dan informasi merupakan basis dalam pengembangan pembelajaran di dalam kelas, baik dalam pengaturan kelas denga alat teknologi (praktik), maupun kelas yang diatur dengan alat teknologi yang memungkinkan peserta didik dapat mempelajari apa yang diinginkan dengan bantuan alat teknologi. Guru juga perlu memahami pembelajaran teknologi dan informasi tidak hanya berfokus pada teknologi komputer saja, terdapat pula alat lainnya yang bisa dimanfaatkan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti teknologi telepon, video berteknologi tinggi, dan alat teknologi lainnya. Guru juga harus dapat memilih dan menentukan teknologi dan informasi apa tang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.